KERJA KERASKU BERBUAH HASIL
Langit biru yang menyapa hari yang
begitu terang dengan sunrise yang
begitu indah di awal hari. Dalam menghidupi kehidupanku, Aku harus berjuang
sendiri demi ke 5 orang adikku. Ayah dan Ibuku telah meninggalkan Kami bersama
sejak Aku berusia 17 tahun.
Dalam menghidupi ke 5 Adikku, Aku harus
bekerja keras tak kenal siang atau pun malam. Pendidikanku pun berhenti di
bangku SMA karena masalah biaya. Ku harus membiayai semua pendidikan semua
adikku hingga perjuruan tinggi dan kelak dapat dipandang oleh orang-orang yang
hanya mampu mengolok kami saat ini.
“ Adi...adi...” Panggilku.
“ Iyaa kak?” Jawab salah satu Adikku
yang tertua.
“ Nanti Kamu harus antar Ade, Adlan,
Adlin, dan Adan ke sekolah dulu ya soalnya kakak harus berangkat subuh-subuh
untuk jual nasi kuning.” Kataku pada Adi
“ Iyaa kak. Maaf ya Kak selama ini aku
dan yang lain ngerepotin Kakak.” Ucap Adi dengan wajah yang memelas.
“ Kamu sama sekali tidak ngerepotin Kakak.
Kalian semua itu keluarga Kakak, semangat kakak kalian juga adalah tanggung
jawab Kakak. Kamu paham itu.” Penjelasan ku sambil memberikan seyuman padanya.
Ke 5 Adikku adalah semangat dalam
kehidupanku. Aku tak pernah mau mengenal lelah karena aku yakin Allah selalu
bersamaku. Aku yakin Ayah dan Ibu bisa bangga padaku di alam surga.
Dengan semangat yang sangat besar di
pagi buta, Aku mulai melaksanakan kewajiabanku untuk menafkahi keluargaku
dengan usaha kecil yaitu usaha nasi kuning. Setiap harinya memang seperti itu.
“ Nasi kuning.... nasi kuning... murah-murah
hanya 2.000.” Teriakku dengan suara yang lantang. Kata itu seakan menjadi kata
yang harus ku ucapkan dalam keseharianku.
“ Dek, nasi kuningnya.” Teriak salah
satu seorang Ibu tua.
“ Berapa Ibu?” Tanyaku pada Ibu tua
itu.
“ 5 Nak.”
“ Oh ya bu, ini Bu.” Ucapku sambil
memberikan Ibu tua itu.
“ Semuanya berapa Nak?”
“ 10.000 Bu.”
“ Nak, Ibu sering banget liat kamu di
sini. Subuh-subuh. Emangnya kamu sangat butuh uang ya?” Tanya Ibu tua itu.
“ Iya Bu saya sangat membutuhkan uang
untuk biaya sekolah ke 5 Adik saya Bu.” Jawabku.
“ Ayah dan Ibu kamu mana?” Tanya Ibu
tua itu lagi.
“ Ayah dan Ibu saya udah meninggal Bu,
ya udah kalau gitu Bu, Aku harus kembali menjual Bu. Makasih ya Bu.” Kataku dan
kembali melakukan pekerjaanku.
Matahari pun mulai tinggi dan mulai
memancarkan cahayanya amat panas. Jualanku hari ini mungkin kurang beruntung,
jualan nasi kuning yang sudah ku jalankan kurang lebih 3 bulan hanya dapat
menghasilkan begitu-begitu saja, tak ada peningkatan. Walaupun begitu, Aku
bersyukur atas karunia Allah Swt.
Saatnya Aku pulang ke istana kecilku,
namun saat perjalanan pulang seketika mata ini melihat seorang Nenek dan Cucu
duduk diantara tumpukan sampah. Tampak mereka kelaparan, tiba-tiba hati ini
bergerak untuk menolong seorang nenek dan cucunya. Alangkah teganya diriku jika
aku tak membantu mereka.
“ Nek, ini ada sedikit rezeki nenek,
maaf ya Nek hanya ini mampu Aku beri.” Ucapku pada nenek tua itu.
“ Makasih banyak Nak, Semoga Allah
selalu berada di sisimu.” Ujar nenek tua itu padaku.
Alangkah beruntungnya Aku, masih bisa
makan, menyekolahan adik-adikku, tapi ternyata masih ada orang yang berada jauh
di bawahku dan sangat membutuhkan bantuan dari belaian tangan orang-orang yang
berada.
Setelah berjualan nasi kuning, Aku
harus tetap kembali bekerja sebagai pelayan di salah satu cafe ternama di
kotaku. Tempat itu biasanya ditempati tongkronan anak muda yang kurang jelas
akan kegiatan yang ia lakukan, hanya dapat menghamburkan uang dan
membuang-buang waktu dengan percuma.
“ Mau pesan apa?” Tanyaku pada salah
satu anak muda tersebut.
“ Kopi mocacinnonya satu ya.”
“ Iya, tunggu sebentar ya.” Ujarku.
Setelah 5 menit kemudian pesanan anak
muda tersebut siap.
“Ini kopinya.” Ucapku sambil memberikan
secangkir kopi mocacinno.
Pekerjaan sebagai pelayan cafe akhirnya
terselesaikan, tapi pekerjaanku tak hanya disini saja Aku harus melanjutkan
pekerjaanku sebagai penyanyi di salah satu restoran. Restoran tersebut adalah
tempat orang-orang ternama dengan jabatan tinggi berkumpul.
Ku
buka album biru
Penuh
debu dan usang ku pandangi
Semua
gambar diri
Kecil
bersih belum ternoda fikirku pun melayang
Dahulu
penuh kasih
Jiwa
raga dan seluruh hidup rela dan berikan
Kata
mereka diriku slalu manja
Kata
mereka diriku slalu di timang
Oh
bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku.....
Lagu itu sangat membuat tersentuh sejak
kepergian ke 2 orang yang sangat Aku cintai dalam hidupku. Kini mereka hanyalah
sebuah angan semu, mereka hanya dapat Ku liat dalam dunia mimpiku namun Aku
yakin kasih dan sayang setiap harinya ia berikan padaku dan ke 5 Adikku.
Rutinitas dalam keseharianku hanya di
penuhi perkerjaan pagi menjadi seorang pedagang nasi kuning, siang menjadi
pelayan di cafe, dan malam hari menjadi seorang penyanyi di restoran. Seakan
dalam hidupku pekerjaan menjadi sebuah makanan yang harus kulahap agar tidak
kelaparan.
Ku sungguh tak sabar untuk kembali ke
istana kecilku, tempat berteduhku bersama ke 5 Adikku dan ingin segera baring
di atas tikar yang agak usang dan yang paling penting Aku tak sabar untuk
melihat ke 5 adikku yang menjadi penyemangat dalam hidupku.
“ Nak...nak..” Teriak seseorang yang
berada di belakangku.
“ Ibu? Bukannya Ibu yang tadi pagi beli
nasi kuning saya?” tanyaku pada Ibu tua itu.
“ Iya Nak, oh iya ini Cucu Ibu.” Sambil
memperkenalkan seorang cucunya padaku.
“ Nita.” Kataku.
“ Farhan.” Kata pemuda tampan itu.
“ Bukannya kamu yang tadi pesan kopi di
cafe cinta?” Tanyaku pada pemuda tampan itu.
“ Iya.” ucapnya singkat.
“ Ada apa ya Bu... tiba-tiba panggil
saya?” Tanyaku pada Ibu tua itu dengan rasa penasaran yang sangat tinggi.
“ Begini nak Ibu liat kamu sangat
bersemangat dalam bekerja, kamu adalah salah satu ciri-ciri pejuang keras.”
“ Makasih Bu, itu memang kewajiabanku
sebagai seorang Kakak untuk memenuhi kebutuhan ke 5 Adik-adikku Bu.” Kataku
dengan sedikit seyuman yang ku torehkan.
“ Ibu berencana untuk memperkerjakanmu
di salah satu warung Ibu, apa kamu mau?” tanya Ibu tua itu.
“ Tapi Bu saya sudah tidak mempunyai waktu
lagi Bu.”
“ Kamu tenang saja, gaji bakal lebih
besar dibandingkan ke 3 pekerjaanmu Nak”
“ Gimana kalau besok Aku berikan
keputusan Bu?”
“ Iya itu terserah kamu saja Nak, tapi
Ibu berharap agar kamu mau menerima tawaran Ibu.”
Sesaat setelah Aku sampai di istana
kecilku, Aku melihat Adik-adikku sudah tertidur pulas. Aku pun berbaring di
dekatnya, namun Aku sangat kepikiran atas tawaran Ibu tua tadi. Aku sangat
bingung dengan keputusan yang akan Ku putuskan apakah Aku harus menerima
tawaran tersebut atau menolaknya. Aku takut jika menolaknya nanti akan menjadi penyesalan tapi Aku juga
takut kalau aku menerimanya penghasilanku akan mengecil.
Pagi yang sangat sejuk dengan hebusan
angin yang membuatku kedinginan memaksaku untuk memakai jaket peninggalan Ibu
dan segera berjualan.
“ Nasi kuning... nasing kuning....
murah...murah hanya 2000” Teriakku.
“ Nak... nak...” Panggil seseorang yang
berada tak jauh di belakangku.
“ Ibu?” Kataku kaget.
“ Iya, Aku beli 5 bungkus, ini
uangnya.” Ujar Ibu tua itu.
“ Makasih Bu..” Kataku.
“ Oh iya bagaimana dengan tawaran Ibu
yang tadi malam apa kamu telah memikirkannya?” Tanya Ibu tua itu.
“ Iya Bu saya sudah mengambil keputusan
semoga keputusan ini adalah keputusan yang terbaik. Saya memilih untuk menerima
tawaran Ibu tapi dengan ketetapan bahwa gaji saya melebihi penghasilan saya
selama ini.” Ujarku.
“ Baiklah, Ibu akan menerima
persyaratan yang kamu ajukan, baik jika begitu besok kamu harus datang kesini.”
“ Baik bu.”
***
Keesokan harinya Aku pun datang ke
tempat perjanjian dengan Ibu tua itu. Aku sangat penasaran mengapa Ibu tua itu
tiba-tiba menawarakan ku sebuah pekerjaan.
“ Nak, ayo naik kesini ikut sama Ibu.”
Kata ibu tua itu sambil menyuruhku untuk naik ke mobilnya.
“ Kita mau kemana Bu?” Tanyaku.
“ Kamu liat saja nanti. Tempatnya gak
jauh kok sebentar lagi kita akan sampai” Kata ibu tua itu dan benar beberapa
saat kemudian mobil itu berhenti di salah satu warung gado-gado.
“ Kita mau apa Bu disini?” Tanyaku pada
Ibu tua itu.
“ Ini adalah tempat kerja kamu saat
ini. Semoga kamu dapat bekerja dengan baik disini.” Kata Ibu tua itu.
“ Insya Allah Bu saya akan berusaha
keras untuk memajukan warung ini Bu.”
Setelah beberapa bulan kemudian
ternyata warung itu sesuai dengan rencana, warung itu kini berkembang pesat
bahkan warung tersebut kini telah bercabang di beberapa daerah. Dan kini warung
itu menjadi tanggung jawabku bahkan Ibu tua itu mengalihkan nama warung itu
menjadi namaku.
Kini hidupku menjadi lebih baik, kini
hidupku tak sendirian lagi, kini aku telah memiliki keluarga yaitu Farhan
pemuda tampan yang ku kenal. Dan kini Adik-adiku menjadi apa yang Aku inginkan.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar