Jumat, 05 Desember 2014

Cerpen Kewirausahaan


KERJA KERASKU BERBUAH HASIL

Langit biru yang menyapa hari yang begitu terang dengan sunrise yang begitu indah di awal hari. Dalam menghidupi kehidupanku, Aku harus berjuang sendiri demi ke 5 orang adikku. Ayah dan Ibuku telah meninggalkan Kami bersama sejak Aku berusia 17 tahun.
Dalam menghidupi ke 5 Adikku, Aku harus bekerja keras tak kenal siang atau pun malam. Pendidikanku pun berhenti di bangku SMA karena masalah biaya. Ku harus membiayai semua pendidikan semua adikku hingga perjuruan tinggi dan kelak dapat dipandang oleh orang-orang yang hanya mampu mengolok kami saat ini.
“ Adi...adi...” Panggilku.
“ Iyaa kak?” Jawab salah satu Adikku yang tertua.
“ Nanti Kamu harus antar Ade, Adlan, Adlin, dan Adan ke sekolah dulu ya soalnya kakak harus berangkat subuh-subuh untuk jual nasi kuning.” Kataku pada Adi
“ Iyaa kak. Maaf ya Kak selama ini aku dan yang lain ngerepotin Kakak.” Ucap Adi dengan wajah yang memelas.
“ Kamu sama sekali tidak ngerepotin Kakak. Kalian semua itu keluarga Kakak, semangat kakak kalian juga adalah tanggung jawab Kakak. Kamu paham itu.” Penjelasan ku sambil memberikan seyuman padanya.
Ke 5 Adikku adalah semangat dalam kehidupanku. Aku tak pernah mau mengenal lelah karena aku yakin Allah selalu bersamaku. Aku yakin Ayah dan Ibu bisa bangga padaku di alam surga.
Dengan semangat yang sangat besar di pagi buta, Aku mulai melaksanakan kewajiabanku untuk menafkahi keluargaku dengan usaha kecil yaitu usaha nasi kuning. Setiap harinya memang seperti itu.
“ Nasi kuning.... nasi kuning... murah-murah hanya 2.000.” Teriakku dengan suara yang lantang. Kata itu seakan menjadi kata yang harus ku ucapkan dalam keseharianku.
“ Dek, nasi kuningnya.” Teriak salah satu seorang Ibu tua.
“ Berapa Ibu?” Tanyaku pada Ibu tua itu.
“ 5 Nak.”
“ Oh ya bu, ini Bu.” Ucapku sambil memberikan Ibu tua itu.
“ Semuanya berapa Nak?”
“ 10.000 Bu.”
“ Nak, Ibu sering banget liat kamu di sini. Subuh-subuh. Emangnya kamu sangat butuh uang ya?” Tanya Ibu tua itu.
“ Iya Bu saya sangat membutuhkan uang untuk biaya sekolah ke 5 Adik saya Bu.” Jawabku.
“ Ayah dan Ibu kamu mana?” Tanya Ibu tua itu lagi.
“ Ayah dan Ibu saya udah meninggal Bu, ya udah kalau gitu Bu, Aku harus kembali menjual Bu. Makasih ya Bu.” Kataku dan kembali melakukan pekerjaanku.
Matahari pun mulai tinggi dan mulai memancarkan cahayanya amat panas. Jualanku hari ini mungkin kurang beruntung, jualan nasi kuning yang sudah ku jalankan kurang lebih 3 bulan hanya dapat menghasilkan begitu-begitu saja, tak ada peningkatan. Walaupun begitu, Aku bersyukur atas karunia Allah Swt.
Saatnya Aku pulang ke istana kecilku, namun saat perjalanan pulang seketika mata ini melihat seorang Nenek dan Cucu duduk diantara tumpukan sampah. Tampak mereka kelaparan, tiba-tiba hati ini bergerak untuk menolong seorang nenek dan cucunya. Alangkah teganya diriku jika aku tak membantu mereka.
“ Nek, ini ada sedikit rezeki nenek, maaf ya Nek hanya ini mampu Aku beri.” Ucapku pada nenek tua itu.
“ Makasih banyak Nak, Semoga Allah selalu berada di sisimu.” Ujar nenek tua itu padaku.
Alangkah beruntungnya Aku, masih bisa makan, menyekolahan adik-adikku, tapi ternyata masih ada orang yang berada jauh di bawahku dan sangat membutuhkan bantuan dari belaian tangan orang-orang yang berada.
Setelah berjualan nasi kuning, Aku harus tetap kembali bekerja sebagai pelayan di salah satu cafe ternama di kotaku. Tempat itu biasanya ditempati tongkronan anak muda yang kurang jelas akan kegiatan yang ia lakukan, hanya dapat menghamburkan uang dan membuang-buang waktu dengan percuma.
“ Mau pesan apa?” Tanyaku pada salah satu anak muda tersebut.
“ Kopi mocacinnonya satu ya.”
“ Iya, tunggu sebentar ya.” Ujarku.
Setelah 5 menit kemudian pesanan anak muda tersebut siap.
“Ini kopinya.” Ucapku sambil memberikan secangkir kopi mocacinno.
Pekerjaan sebagai pelayan cafe akhirnya terselesaikan, tapi pekerjaanku tak hanya disini saja Aku harus melanjutkan pekerjaanku sebagai penyanyi di salah satu restoran. Restoran tersebut adalah tempat orang-orang ternama dengan jabatan tinggi berkumpul.
Ku buka album biru
Penuh debu dan usang ku pandangi
Semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda fikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Jiwa raga dan seluruh hidup rela dan berikan
Kata mereka diriku slalu manja
Kata mereka diriku slalu di timang
Oh bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku.....
Lagu itu sangat membuat tersentuh sejak kepergian ke 2 orang yang sangat Aku cintai dalam hidupku. Kini mereka hanyalah sebuah angan semu, mereka hanya dapat Ku liat dalam dunia mimpiku namun Aku yakin kasih dan sayang setiap harinya ia berikan padaku dan ke 5 Adikku.
Rutinitas dalam keseharianku hanya di penuhi perkerjaan pagi menjadi seorang pedagang nasi kuning, siang menjadi pelayan di cafe, dan malam hari menjadi seorang penyanyi di restoran. Seakan dalam hidupku pekerjaan menjadi sebuah makanan yang harus kulahap agar tidak kelaparan.
Ku sungguh tak sabar untuk kembali ke istana kecilku, tempat berteduhku bersama ke 5 Adikku dan ingin segera baring di atas tikar yang agak usang dan yang paling penting Aku tak sabar untuk melihat ke 5 adikku yang menjadi penyemangat dalam hidupku.
“ Nak...nak..” Teriak seseorang yang berada di belakangku.
“ Ibu? Bukannya Ibu yang tadi pagi beli nasi kuning saya?” tanyaku pada Ibu tua itu.
“ Iya Nak, oh iya ini Cucu Ibu.” Sambil memperkenalkan seorang cucunya padaku.
“ Nita.” Kataku.
“ Farhan.” Kata pemuda tampan itu.
“ Bukannya kamu yang tadi pesan kopi di cafe cinta?” Tanyaku pada pemuda tampan itu.
“ Iya.” ucapnya singkat.
“ Ada apa ya Bu... tiba-tiba panggil saya?” Tanyaku pada Ibu tua itu dengan rasa penasaran yang sangat tinggi.
“ Begini nak Ibu liat kamu sangat bersemangat dalam bekerja, kamu adalah salah satu ciri-ciri pejuang keras.”
“ Makasih Bu, itu memang kewajiabanku sebagai seorang Kakak untuk memenuhi kebutuhan ke 5 Adik-adikku Bu.” Kataku dengan sedikit seyuman yang ku torehkan.
“ Ibu berencana untuk memperkerjakanmu di salah satu warung Ibu, apa kamu mau?” tanya Ibu tua itu.
“ Tapi Bu saya sudah tidak mempunyai waktu lagi Bu.”
“ Kamu tenang saja, gaji bakal lebih besar dibandingkan ke 3 pekerjaanmu Nak”
“ Gimana kalau besok Aku berikan keputusan Bu?”
“ Iya itu terserah kamu saja Nak, tapi Ibu berharap agar kamu mau menerima tawaran Ibu.”
Sesaat setelah Aku sampai di istana kecilku, Aku melihat Adik-adikku sudah tertidur pulas. Aku pun berbaring di dekatnya, namun Aku sangat kepikiran atas tawaran Ibu tua tadi. Aku sangat bingung dengan keputusan yang akan Ku putuskan apakah Aku harus menerima tawaran tersebut atau menolaknya. Aku takut jika menolaknya  nanti akan menjadi penyesalan tapi Aku juga takut kalau aku menerimanya penghasilanku akan mengecil.
Pagi yang sangat sejuk dengan hebusan angin yang membuatku kedinginan memaksaku untuk memakai jaket peninggalan Ibu dan segera berjualan.
“ Nasi kuning... nasing kuning.... murah...murah hanya 2000” Teriakku.
“ Nak... nak...” Panggil seseorang yang berada tak jauh di belakangku.
“ Ibu?” Kataku kaget.
“ Iya, Aku beli 5 bungkus, ini uangnya.” Ujar Ibu tua itu.
“ Makasih Bu..” Kataku.
“ Oh iya bagaimana dengan tawaran Ibu yang tadi malam apa kamu telah memikirkannya?” Tanya Ibu tua itu.
“ Iya Bu saya sudah mengambil keputusan semoga keputusan ini adalah keputusan yang terbaik. Saya memilih untuk menerima tawaran Ibu tapi dengan ketetapan bahwa gaji saya melebihi penghasilan saya selama ini.” Ujarku.
“ Baiklah, Ibu akan menerima persyaratan yang kamu ajukan, baik jika begitu besok kamu harus datang kesini.”
“ Baik bu.”
***
Keesokan harinya Aku pun datang ke tempat perjanjian dengan Ibu tua itu. Aku sangat penasaran mengapa Ibu tua itu tiba-tiba menawarakan ku sebuah pekerjaan.
“ Nak, ayo naik kesini ikut sama Ibu.” Kata ibu tua itu sambil menyuruhku untuk naik ke mobilnya.
“ Kita mau kemana Bu?” Tanyaku.
“ Kamu liat saja nanti. Tempatnya gak jauh kok sebentar lagi kita akan sampai” Kata ibu tua itu dan benar beberapa saat kemudian mobil itu berhenti di salah satu warung gado-gado.
“ Kita mau apa Bu disini?” Tanyaku pada Ibu tua itu.
“ Ini adalah tempat kerja kamu saat ini. Semoga kamu dapat bekerja dengan baik disini.” Kata Ibu tua itu.
“ Insya Allah Bu saya akan berusaha keras untuk memajukan warung ini Bu.”
Setelah beberapa bulan kemudian ternyata warung itu sesuai dengan rencana, warung itu kini berkembang pesat bahkan warung tersebut kini telah bercabang di beberapa daerah. Dan kini warung itu menjadi tanggung jawabku bahkan Ibu tua itu mengalihkan nama warung itu menjadi namaku.
Kini hidupku menjadi lebih baik, kini hidupku tak sendirian lagi, kini aku telah memiliki keluarga yaitu Farhan pemuda tampan yang ku kenal. Dan kini Adik-adiku menjadi apa yang Aku inginkan.
TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar